Hubungan Dukungan Suami Dengan Kepatuhan Ibu Nifas Dalam Melakukan Kunjungan Ulang Di Bpm “F” Kabupaten Agam
pdf

Kata Kunci

husband support, postpartum compliance, follow-up visits, maternal health, BPM Fifiyanti

Cara Mengutip

Hubungan Dukungan Suami Dengan Kepatuhan Ibu Nifas Dalam Melakukan Kunjungan Ulang Di Bpm “F” Kabupaten Agam. (2025). HEALTH CARE: JURNAL KESEHATAN, 14(1), 149-154. https://doi.org/10.36763/healthcare.v14i1.620

Abstrak

Nifas merupakan periode kritis yang berlangsung hingga 6 minggu pascapersalinan dan memerlukan pemantauan rutin. WHO merekomendasikan minimal empat kali kunjungan nifas. Namun, tingkat kepatuhan ibu dalam melakukan kunjungan ulang masih rendah yaitu 38 orang (63 %) dari total ibu nifas yang melahirkan di BPM . Dukungan suami diduga menjadi faktor penting yang memengaruhi kepatuhan ibu nifas. Mengetahui hubungan antara dukungan suami dengan kepatuhan ibu nifas dalam melakukan kunjungan ulang di BPM Fifiyanti Kabupaten Agam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian adalah ibu nifas yang melahirkan dan mendapatkan pelayanan di BPM Fifiyanti Kabupaten Agam selama Januari–Maret 2025, dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling sebanyak responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner mengenai tingkat dukungan suami dan dokumentasi rekam medis untuk melihat kepatuhan kunjungan ulang. Uji statistik yang digunakan adalah Chi-Square untuk menguji hubungan antar variabel. Dari 45 ibu nifas, sebagian besar ibu yang mendapatkan dukungan tinggi dari suami menunjukkan tingkat kepatuhan yang lebih tinggi dalam melakukan kunjungan ulang. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan suami dan kepatuhan ibu nifas dalam kunjungan ulang nilai p = 0,001  Dukungan suami berhubungan signifikan dengan kepatuhan ibu nifas dalam melakukan kunjungan ulang. Oleh karena itu, pelibatan suami dalam edukasi dan pelayanan masa nifas sangat penting sebagai upaya meningkatkan cakupan kunjungan nifas. Hasil ini diharapkan menjadi dasar intervensi berbasis keluarga di pelayanan kebidanan.

pdf