Abstrak
Nelayan penyelam tradisional pengguna kompresor berisiko mengalami gangguan kesehatan pernapasan akibat pajanan lingkungan hiperbarik dan udara bertekanan yang terjadi secara berulang selama aktivitas penyelaman. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan masa kerja dengan gejala respirasi pada nelayan penyelam tradisional pengguna kompresor di Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 57 penyelam yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang memuat karakteristik pekerjaan dan gejala respirasi setelah penyelaman, kemudian dianalisis secara deskriptif dan bivariat menggunakan uji chi-square. Gejala respirasi setelah penyelaman ditemukan pada 27 responden (47,4%), sedangkan sebagian besar responden telah bekerja sebagai penyelam selama lebih dari lima tahun (84,2%). Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara masa kerja dan gejala respirasi (p=0,044). Penyelam dengan masa kerja lebih dari lima tahun memiliki risiko 9,45 kali lebih besar mengalami gejala respirasi dibandingkan penyelam dengan masa kerja lima tahun atau kurang (OR=9,45; 95%CI=1,10–81,58). Riwayat merokok, durasi penyelaman, dan frekuensi penyelaman tidak berhubungan signifikan dengan gejala respirasi. Masa kerja sebagai indikator pajanan kerja kumulatif berpotensi meningkatkan risiko gejala respirasi pada penyelam tradisional pengguna kompresor. Pemantauan kesehatan respirasi dan promosi kesehatan kerja perlu ditingkatkan untuk mencegah gangguan kesehatan pada kelompok pekerja ini.

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Hak Cipta (c) 2026 Arfiyan Sukmadi, Yusuf Musafir Kolewora
